Dongeng "Mondok Pesantren" (1) - FAKKIR

Dongeng “Mondok Pesantren” (1)

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD – Bila aku pulang ke rumah dari luar kota untuk waktu 3 sampai 7 hari, aku sering meminta anak-anakku, N (10 th) dan F (8 th), untuk tidur bersamaku. Kepada mereka aku sering mendongeng kisah Nabi-Nabi yang 25. Pada saat lain, aku mendongeng kisah kelahiran Nabi Muhammad, Hijrah, Isra-Mi’raj, sahabat Bilal, Amar bin Yasir, dan tak ketinggalan Abu Nawas.

Nah, pada suatu malam, mereka meminta aku mendongeng bagaimana aku dulu mesantren di Jawa Timur.

Akupun bercerita. Aku masih ingat dengan jelas, Tahun 1970, setelah tamat sekolah SMP, ayah-ibuku menganjurkan aku berangkat ke Pesantren, menyusul kakak dan pamanku yang tiga tahun lebih dulu mesantren di Jawa Timur. Begitu juga pada umumnya keluarga pondok di semua pesantren di Indonesia. Mereka memandang pesantren sebagai lembaga pendidikan yang terbaik untuk menghasilkan para mu’allim agama, juru dakwah (da’i) dan ulama. Dan pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang paling awal di nusantara.

Pada hari yang ditentukan aku berangkat. Ayah-ibu, adik-adik, paman, bibi, dan para tetangga, mengantarku menuju Stasiun Kereta Api di Cirebon. Aku naik kereta api “langsam”, begitu kami menyebutnya. Aku tak tahu nama itu dari bahasa apa. Ia adalah kereta api kelas ekonomi, kelas rakyat dengan ekonomi pas-pasan. Ia berjalan lambat dan berhenti di setiap stasiun. Ia sering padat, bersesak-sesak, panas, pengap, dengan lalu-lalang pedagang yang tak pernah berhenti menjajakan minuman dan makanan kecil. Ketika itu aku tak menganggap ada masalah. Aku menikmati saja apa adanya. Dari balik jendela, aku melihat ayah-ibu dan para pengantar melambai-lambaikan tangan, begitu kereta bergerak sambil membunyikan nada: “Nguuuuk, nguuuk” atau “Tuuut, Tuuut”. Tentu saja aku merasa pilu, meninggalkan orang-orang yang aku cintai untuk waktu yang akan lama.

Bersambung

23.10.2020