Dongen "Mondok Pesantren" (6) - Lagu - FAKKIR

Dongen “Mondok Pesantren” (6) – Lagu

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD – Aku melihat mata kedua anakku itu seperti lelah dan mengantuk. Aku bertanya apakah masih mau mendengarkan kisah buya masa lalu ketika mondok?. Mereka sebetulnya masih ingin, tapi kondisi mata sudah lelah dan ingin istirahat. Lalu mereka minta dilanjutkan besok malam. Tetapi sebelum mengakhiri, mereka minta aku menyanyi lagi lagu yang pernah aku senandungkan kepada mereka beberapa waktu lalu. Mereka sangat terkesan. Kata mereka lagu itu enak dan suaraku juga merdu. Lagu itu berjudul Keagungan Tuhan”.ۢ

Aku masih ingat penuh, lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh Ida Laela, seorang penyanyi melayu yang legendaris. Ia selalu diiringi oleh orkes nmelayu pimpinan A. Kadir. Nama dan lagu ini sangat popular ketika itu. Ia digubah oleh Abdul Malik Buzaid, seorang laki-laki keturunan Arab, dan dirilis pada tahun 1966.

Aku mendengar lagu itu ketika di pesantren dan dari tempat yang jauh, terdengar sayup-sayup, menderu-deru dan muncul tenggelam, sesuai angin yang membawanya. Tetapi ketika itu bukan dinyanyikan oleh Ida Laela, melainkan oleh Titiek Sandhora, si “Jago Mogok”, itu, saat masih sendiri, lajang atau jomblo, sebelum kelak menjadi isteri Muhsin Alatas. Pada waktu yang lain ia dinyanyikan oleh Syam D’lloyd dan belakangan oleh Sulis-Hadad Alwi, Arman Gigi dan Vidi. Mungkin ini satu-satunya lagu melayu yang aku hapal. Lagu- lagu yang aku suka sebenarnya lagu-lagu pop, musik klasik dan keroncong, terutama gubahan Ismail Marzuki.

Mengapa aku suka lagu ini?. Kata seorang teman. Aku bilang, karena pesan-pesan liriknya menggugah kesadaran manusia, mengekpresikan nilai kemanusiaan yang agung: Kesetaraan Manusia, Cinta dan Kasih Sayang Tuhan kepada semua ciptaan-Nya, dan mengingatkan semua orang akan kesementaraan hidup di dunia dan kebakaan kehidupan akhirat. Dan aku ingin pesan-pesan ini didengar anak-anakku.

Bersambung

27.10.2020
HM