Dongeng "Mondok Pesantren" (3) - FAKKIR

Dongeng “Mondok Pesantren” (3)

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD – Bekal Pas-pasan. Anak-anakku mendengarkan dongengku dengan tekun. Bola mata mereka yang indah itu terus memusat ke bibirku. Aku meneruskan :

Untuk perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, aku tidak dibekali uang yang cukup untuk bisa membeli minuman dan makanan di atas kereta api. Orang tua hanya membekali nasi timbel dengan lauk tempe, tahu, sambal goreng, ikan asin, telor asin serta air di botol. Untuk keperluan makan selama sebulan di pesantren aku dan para santri pada umumnya, membawa beras sekitar 12 kg untuk makan satu bulan.

Keadaan itu sangat berbeda dengan para santri hari ini, termasuk ketika tiga anak-anaku mesantren. Mereka enggan, tak mau repot-repot membawa beras satu “kandek”, waring, meski hanya 12-15 kg. “Tidak praktis, repot, berat”, kata mereka. “Toh beras dapat dibeli di tempat di mana kami tinggal atau di mana saja di seluruh pelosok negeri ini”, lanjut mereka. Mereka minta uangnya saja. Aku menyimpan gumam membenarkan mereka:

Zaman memang terus berubah dan berkembang. Ini adalah keniscayaan alam semesta. Yang tetap hanyalah Tuhan. Kita tak bisa memaksakan tradisi kita kepada anak-anak kita, karena mereka tidak dilahirkan di zaman kita dengan seluruh kondisi dan situasinya. Mereka dilahirkan pada zamannya sendiri, juga berikut kondisi dan situasinya.

Konon kata Socrates atau Platon, sebagaimana dikutip oleh Al-Syihristani dan Ibnu Qayyim :

لا تكرهوا أولادكم على آثاركم، فإنهم مخلوقون لزمان غير زمانكم

” Jangan kau paksa anak-anakmu mengikuti jejak tradisimu, karena mereka diciptakan untuk suatu zaman, bukan pada zamanmu”.

Kehidupan sehari- hari di Pesantren

Untuk keperluan hidup bulan-bulan berikutnya, para santri akan dikirimi uang oleh orang tuanya melalui pos wesel yang biasanya akan sampai dan diterima mereka dalam waktu tiga sampai seminggu di perjalanan. Komunikasi antar orang tua/keluarga dan anak-anaknya hanya bisa dilakukan dengan surat melalui kantor pos, tak ada telpon apalagi HP. Dalam keadaan darurat bisa dilakukan melalui telegrap. Praktis, seperti para santri lain, akupun tidak pernah berkomunikasi dengan ayah dan ibu atau keluarga lain di kampung. Betapa jauhnya kemarin dulu dan hari ini.

Lauk yang sama setiap hari selama tiga tahun.

Aku bersama saudara dan teman sekampung tinggal di kamar yang amat sederhana. Ukuran 2×3 m. Kami masak bergantian. Tiap orang setor beras satu gelas. Lalu dimasak di atas kompor. Bila air nasi sudah surut, kangkung yang sudah dipotong-potong diletakkan di atas nasi setengah masak itu. Dan di atas tumpuksn kangkung itu diletakkan bumbu : parutan kelapa dicampur “gerusan”, tumbukan atau ulekan cabe, bawang merah dan garam secukupnya. Sambil menunggu masak kami menghafal pelajaran, seperti bait-bait Alfiyah Ibnu Malik, (1000 bait tentang gramatika bahasa Arab) atau Jauhar Maknun (syair2 tentang ilmu sastra Arab) atau Sulam Munawraq, ( ilmu Mantiq/ logika Aristotelian), atau Nazham al- Faraid al Bahiyyah (tentang kaedah- kaedah Fiqih) atau membaca kitab kuning, dan lain- lain.

Itulah lauk nasi ku sehari-hari selama tiga tahun. Tak berubah dan berganti. Tak juga makan di warung pondok, karena tak punya uang lebih. Kadang-kadang ada kiriman dari rumah, gorengan ikan asin atau ayam. Tapi ini sangat jarang.

24.10.2020
HM