Dongeng "Mondok Pesantren" (5) - Banyak santri miskin jadi ulama besar - FAKKIR

Dongeng “Mondok Pesantren” (5) – Banyak santri miskin jadi ulama besar

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD – Sepanjang cerita, kedua anakku mendengarkan dengan tekun, diam dan mata yang berkaca-kaca. Kadang-kadang jari-jari tangannya yang lembut memegang kain bajunya lalu mengusap-usapkan pada matanya. Sesekali menggenggam tanganku erat-erat. Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Akupun memeluk mereka satu persatu, menguatkan hati mereka. Aku mengatakan kepada mereka untuk mencapai sukses seseorang harus berjuang, dan berlelah- lelah. Kakek kalian Abuya Muhammad telah menulis syair :

Arep mangan kudu ngliwet
Aja namung kruwat kruwet.
Uga wong kang arep pinter
Kudu wani pegel banter

Mau makan harus masak
Janganlah hanya mengeluh
Juga orang ingin pintar
Harus brani lelah semangat

Orang-orang melayu membuat pantun :

Berakit-rakit dahulu
Berenang renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Lalu aku juga menyanyikan bait syair dari Imam Syafi’ i :

ومن لم يذق مر التعلم ساعة,
تجرع ذل الجهل طول حياته

“Dan barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar,
maka ia kelak harus mampu menahan perihnya kebodohan”.

Para ulama besar, di manapun dan kapanpun banyak yang lahir dari keluarga miskin, tidak mampu secara ekonomi. Ayah Imam Ghazali itu miskin. Ia bekerja memintal benang untuk membiayai kedua anaknya. Imam Nawawi juga miskin. Setiap hari makannya roti kering dari madrasah. Mereka menempuh perjalanan mencari ilmu dengan jalan kaki dari propinsi ke propinsi. Istirahatnya di mushalla.

Embah yai Manaf, embah yai Marzuki dan mbah yai Mahrus Ali , semua para pengasuh pesantren Lirboyo itu adalah santri- santri miskin, jauh lebih miskin dari buya. Beliau- beliau adalah ulama besar, guru para ulama/kiai. Kemiskinan itu acapkali memicu orang untuk semangat berjuang keras dan tekun belajar dan ibadah. Para santri sekarang pada umumnya lebih enak dan lebih makmur dari santri dulu.

Mendengar ceritaku ini mata bibir mereka mengembang sedikit ceria, seperti ingin tersenyum. Tangan mereka memeluk tubuhku kencang sekali.

Bersambung
25.10.2020
HM