GUS DUR MENCINTAI MANUSIA - FAKKIR

GUS DUR MENCINTAI MANUSIA

FAKKIR.XYZ – BUYA HUSEIN MUHAMMAD | Baru saja aku, aku mengakhiri bicara dalam perbincangan dengan para penerima Gusdurian Award 2020, di TV9. Ini :

Manusia dan kemanusiaan adalah focus pikiran dan perhatian utama Gus Dur, siang dan malam serta pada setiap nafas yang berhembus. Ia mencintai manusia dengan seluruh pikiran dan hatinya. Ia seperti tak pernah lelah dan bosan bicara bahwa manusia siapapun dia wajib dilindungi hak-hak dasarnya. Ia terus mendengungkan gagasan bahwa agama hadir untuk membebaskan manusia dari situasi dunia yang gelap menuju dunia yang bercahaya. “Li Tukhrij al-Nas min al-Zhulumat ila al-Nur”. Dunia gelap adalah dunia yang dikepung kebodohan dan kezaliman, dan dunia bercahaya adalah dunia yang diliputi ilmu pengetahuan dan keadilan.

Gus Dur membaca dengan penuh kekaguman kata-kata Nabi Muhammad bahwa pekerjaan manusia yang paling utama dan paling disukai Tuhan adalah hadir bersama manusia, melepaskan penderitaan mereka, menghilangkan rasa lapar dan haus mereka, membagi kegembiraan di hati mereka, merajutkan tali persaudaraan di antara mereka, menegakkan keadilan dan menebarkan jaring-jemaring perdamaian dan cinta.

” قَالَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا رَبِّ أَيْنَ أَبْغِيكَ؟ قَالَ: أَبْغِنِي عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ “.

Musa bertsnya. Duhai Tuhan, di mana aku bisa menjumpaimu?. Dia menjawab ; “temui aku di tengah-tengah mereka yang hatinya luka”.

Gus Dur bekerja keras menerjemahkan gagasan kemanusiaan itu baik melalui tulisan-tulisannya, ceramah-ceramahnya maupun dan terutama dalam sikap hidupnya sehari-hari di mana dan kapanpun. Dengan penuh gairah cinta, ia berjalan tanpa rasa gentar, menerjang terjang setiap penghalang, untuk mewujudkan impian-impiannya itu.

Puncak dari segalanya adalah Cinta. Syams Tabrizi, sang Darwisy misterius dan “aneh”, mengatakan : “Kita harus belajar mencintai makhluk Allah”. Katanya :

مَا لَمْ نَتَعَلَّمْ كَيْفَ نُحِبُّ خَلْقَ اللهِ فَلَنْ نَسْتَطِيعَ أَنْ نُحِبَّ حَقًّا. وَلَنْ نَعْرِفَ اللهَ حَقًّا

“Selama kita tidak belajar bagaimana mencintai makhluk Allah, kita tidak akan bisa benar-benar mencintai siapapun, dan kita tidak akan mengenal Allah dengan sebenar-benarnya”.