HIDUP INI UNTUK APA ? - FAKKIR

HIDUP INI UNTUK APA ?

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD

Hari ini, 12 Maret, empat tahun lalu, aku menulis ini. Izinkan aku menulisnya lagi.

Di Jakarta, pada suatu malam yang tenang, seorang teman karib menemuiku di tempat aku menginap untuk dua malam. “Aku kangen ngobrol dengan “njenengan”, seperti dulu kala yang indah dan syahdu”, katanya. Kata “seperti dulu kala” menunjuk hari-hari saat aku masih kost di Menteng, antara tahun 2007-2014, untuk menapaki perjalanan hidup.

Aku menyambutnya dengan riang. Aku lalu mengajaknya menyusuri jalan kenangan di seputar kawasan Menteng yang mengesankan dan menyimpan keindahan melankolis. Sepanjang perjalanan itu kami bercerita masa lalu di sejumlah tempat. Sesekali aku menyanyikan lagi “Sepanjang Jalan Kenangan” yang dulu dinyanyikan Tetty Kadi.

Bila kemudian tiba di TIM (Taman Ismail Marzuki) kami berhenti dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk ngobrol. Dia pesan kopi, aku pesan teh tawar. Dia mengambil sebatang rokok dan mengisapnya. Sedang aku tak lagi merokok dan ngopi. Dilarang dokter. Pasca sakit dan dirawat di RS. Lalu perbincangan diteruskan dan berlangsung hangat. ” Di sini, aku pernah baca puisi dan nonton konser musik klasik”, kataku.

Banyak hal diperbincangkan antar aku dan dia. Kami bercerita dan berceloteh ngalor ngidul tentang pengalaman hidup di ibu kota dengan seluruh suasana hiruk-pikuk, kelelahan dan tertawa terbahak-bahak yang tak jelas. Kami bicara tentang manusia berikut problematika, ambiguitas, kemunafikan dan paradoks-paradoks kehidupan yang tak dimengerti. Absurd, tetapi mengasyikkan. Aku bertanya sendiri: “hidup ini untuk apa dan mau kemana?. Tampaknya kita hidup hanya untuk mempertahankan hidup. Semua orang ingin dan sangat berambisi untuk mencari kenikmatan hidup selama-lamanya di sini, meski tahu itu tak mungkin. Setiap yang hidup pasti akan mati. Semuanya akan berhenti dan tak akan kembali di sini selama-lamanya”, kataku seperti berceramah.

Aku segera ingat Ibnu Athaillah al-Sakandari, sufi master, mengatakan dalam karya Magnum opusnya “Hikam” :

َما مِنْ نَفَسٍ تُبْدْيهِ إلّا وَلَهُ قَدَرٌ فيكَ يُمْضِيهِ

“Nafas yang kau hembuskan selalu memiliki batas berhenti atas keputusan Dia”.

Temanku menyahut: “Hidup bagai kisah Sisifus”. Temanku ini sering menulis cerpen di majalah sastra Horison dan menulis Novel.

“Ya seperti dalam Novel Sisifus karya Albert Camus, yang terkenal itu”, jawabku.