IBLIS PAHLAWAN TERKUTUK (Part 4-tamat) - FAKKIR

IBLIS PAHLAWAN TERKUTUK (Part 4-tamat)

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD

Dengan secepat kilat Iblis kemudian melesat menerobos langit demi langit untuk menemui Malaikat Jibril. Ia meminta tolong kepadanya agar menyampaikan maksudnya kepada Tuhan. Maksud itu ialah keinginan kuat untuk bertaubat, berhenti mengganggu, dan menjerumuskan manusia untuk berbuat durhaka kepada Allah.

Mendengar permohonan Iblis itu, Jibril tertegun sejenak, lalu menjawab bahwa niat itu baik…

ولكن زوالك من الارض يزيل الأركان ويزلزل الجدران، فلا معنى للفضيلة بغير وجود الرذيلة.. ولا للطيب بغير الخبيث.. ولا للنور بغير ظلام.. بل أن الناس لا يرون نور الله إلا من خلال ظلامك.
Artinya secara bebas kira-kira begini :

“Tetapi jika kamu bertobat dan jadi saleh, pilar-pilar langit akan runtuh, tak ada lagi warna-warni, tak lagi musim semi yang indah. Tak ada lagi makna kemuliaan, tak ada lagi makna kebenaran, tak ada lagi cahaya. Bahkan manusia tak dapat melihat cahaya Tuhan tanpa kehadiranmu di muka bumi ini. Adamu adalah niscaya sepanjang bumi masih membentang agar yang lain ada. Kebaikan dan kebenaran ada justeru karena adanya kamu. Cahaya ada, karena ada kegelapan, dan kegelapan itu adalah kamu. Keadilan ada karena ada kezaliman, dan kezaliman itu adalah kamu. Kalau kamu tak ada lagi, manusia tak lagi mau berjuang dan bumi berhenti berputar”.

Iblis menegaskan pernyataan Malaikat itu :

فقال إبليس: وجودي ضروري لوجود الخير ذاته،

“Jadi keberadaanku adalah keniscayaan agar kebaikan menjadi eksis, ya?. Kalau begitu aku berjasa, bukan?. Lantas mengapa aku harus dikutuk dan dicaci-maki sepanjang ruang dan waktu kehidupan manusia?, kata Iblis dengan wajah memelas.

Jibril ingin memungkasi perdebatan dengan Iblis dengan mengatakan :

نعم يجب أن تظل ملعونا إلى آخر الزمان… إذا زالت اللعنة عنك زال كل شئ

“Ya kamu selamanya harus terkutuk sampai kehidupan dunia berakhir. Jika kutukan kepadamu tidak ada lagi, maka dunia berakhir”.

Iblis bersedih hati. Stress untuk beberapa saat. Lalu turun lagi ke bumi dengan langkah gontai, sambil berteriak-teriak keras : “Inni Syahid”, “Inni Syahid” , “Inni Syahid”.(Hore Aku pahlawan, aku pahlawan, aku pahlawan). Ya Martir, Pahlawan, meski “Syahid Mal’un”, pahlawan terkutuk. Ia mengaku.

Bulan telah bertengger di tengah langit biru yang bening. Taufiq berdiri dan membiarkan air sungai Nil mengalir datar, tenang dan menagkap cahaya rembulan. Ia telah mengkhayal begitu jauh, berimajinasi tentang sesuatu yang tak mungkin. Abbas Mahmud Aqqad, temannya, bilang: “Inilah karya sastra yang terbaik yang aku ketahui. Taufik memang, genius dan sangat pantas memeroleh Nobel Sastra Dunia ”.

Tetapi yang lain bilang: “Taufiq kerasukan Iblis (Talbis Iblis), dia melecehkan wibawa institusi keagamaan dan tokoh yang sangat dihormati”, teriak banyak orang sambil mengacungkan pedang dengan wajah merah saga. “Darah Taufiq halal dialirkan ke sungai Nil ini atau dilemparkan dari puncak Piramida di Giza”.

Dan aku membisu sambil merenungkan kisah khayalan sastrawan besar dari Mesir itu.