KETIKA ISLAM DI ANDALUSIA (bag 3 dari 3. Habis) - FAKKIR

KETIKA ISLAM DI ANDALUSIA (bag 3 dari 3. Habis)

FAKKIR.XYZ | HUSEIN MUHAMMAD

Kindi (w. 873 M), seorang filsuf muslim awal terkemuka, mengatakan :

ينبغِى لَنَا اَنْ لَا نَسْتَحْيِى مِنْ اِسْتِحْسَانِ الْحَقِّ وَاقْتِنَاءِ الْحَقِّ مِنْ اَيْنَ اَتَى وَإِنْ أَتى مِنَ الْاَجْنَاسِ الْقَاصِيَةِ عَنَّا وَالْاُمَمِ الْمُبَايِنَةِ لَنَا

“Seyogyanya kita tidak merasa malu menerima dan menjaga suatu kebenaran dari manapun ia berasal, meski dari bangsa-bangsa yang jauh dan berbeda dari kita”. (Filosof al-Kindi).

Sayyed Hossein Nasr, cendekiawan muslim kontemporer dari Iran yang terkenal mengatakan : “ Islam menjadi ahli waris khazanah kecendikiaan semua peradaban besar dunia sebelumnya, kecuali peradaban besar Timur Jauh, serta menjadi sebuah tempat berlindung di sebuah jagat ruhani baru”.

Kita tak bisa mengatakan kecuali bahwa Islam memang hadir untuk semua manusia dan menjunjungtinggi semua peradaban dan semua kebudayaan manusia. Islam adalah agama terbuka, inklusif dan (seharusnya) menjadi anugerah keindahan bagi semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).

Mohammad Iqbal, filsuf dan sastrawan besar dari Pakistan, menyampaikan pesan kepada manusia muslim:

Wahai, kau yang lahir di bumi seindah mawar
Yang lahir dari rahim pribadi
Jangan ingkar akan pribadimu
Berpeganglah padanya
Jadilah setitik air dan reguk samudra ini
Sang pribadi yang berkilauan itulah sifatmu
Perteguh pribadimu dan kau kekal selamanya
Kau punya wujud, tapi takutkah kau jika tak berwujud?

Di tempat lain, dia bilang :

Bukalah matamu, pandang dunia, bintang dan angkasa raya
Lihatlah sang mentari terbit di Timur dengan gembira
Lihatlah semesta raya yang tak berkudung itu bertaburkan cahaya
Kenangkan rindu dendam hari perpisahan
Tapi, jangan engkau lelah melangkah
Pandang perjuangan dalam harap dan cemas
Seisi alam semesta ini adalah milikmu
Kuasailah mereka