LAYLA MAJNUN (4) - FAKKIR

LAYLA MAJNUN (4)

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD

(Istirahkan pikiran dan hatimu. Mari kita melanjutkan kisah cinta Layla-Majnun).

Dipaksa menikah, tanpa cinta

Singkat cerita, Layla akhirnya dinikahkan ayahnya dengan laki-laki lain, tanpa dia sendiri menyukai apalagi mencintanya. Ia menerima laki-laki pilihan ayahnya itu tanpa bisa menolaknya, karena tradisi yang mengakar akan menghukumnya, bila ia menolak. Tradisi di banyak tempat di dunia sejak zaman klasik, dan selama berabad-abad, tak membenarkan perempuan menolak kepentingan ayah. Pandangan keagamaan juga menegaskan “hak Ijbar” (hak memaksa) ayah atas anak perempuannya. Perempuan seperti tak punya hak atas tubuhnya sendiri. Tubuh dan kehendak perempuan diatur dan didefinisikan oleh kehendak laki-laki, meski ia (perempuan), seperti juga siapa pun, kelak akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Qais mendengar hari perkawinan kekasih hatinya itu, dan ia langsung jatuh pingsan, hatinya terbakar. Ia menangis menderu-deru, meraung-raung, sepanjang hari sepanjang malam. Ia menyesali diri telah mencintai Layla. Ia sempat mengatakan bahwa Layla tidak setia, dan ia akan menyingkir dari kehidupannya. Katanya:

ايُّهَا الْقَلْبُ عِشْ خَالِيًا وَدَعْ عَنْكَ مَحَبَّةَ كُلِّ مَنْ لَا وَفَآءَ لَهُ

“Duhai hatiku, hiduplah menyepi, tinggalkan mencintai orang yang tak setia.”

Qais mengekspresikan kekecewaannya itu dalam puisinya:

نَدِمْتُ عَلَى مَا كَانَ مِنِّى نَدَامَةً كَمَا يَنْدَمُ الْمَغْبُونُ حِينَ يَبِيعُ

“Aku menyesali apa yang telah terjadi, bagai penyesalan orang yang tertipu saat menjual.”

Tetapi ia tak bisa menolak kehadiran cinta itu yang telah merasuk diam-diam dan kemudian menyatu ke dalam jantung jiwanya. Ia menjadi “gila” (majnun). Qais kemudian mengembara tanpa arah dan membiarkan tubuhnya tak terurus. Rambutnya penuh debu dan semrawut. Ia mengarungi padang pasir yang luas dalam terik matahari yang membakar tubuhnya, seperti panas hatinya yang terbakar oleh cinta kepada Layla. Ia mendaki gunung gemunung dan memasuki hutan-hutan belukar, tanpa manusia. Ia menyendiri, merindu dan menangis. Ia kemudian bersahabat dengan para binatang. Mereka menyayangi Qais,yang manusia itu, dan ia juga menyayangi mereka. Mereka saling menyayangi.