MERAYAKAN ISRA - MI'RAJ - FAKKIR

MERAYAKAN ISRA – MI’RAJ

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD

Terlepas dari perdebatan yang tak akan selesai mengenai apakah Isra’ dan Mi’raj tersebut secara fisik dan ruh atau hanya ruh saja, Peristiwa ini disambut seluruh kaum muslimin dunia dan diperingati setiap tahun dengan beragam cara. Di Turki, malam Mi’raj diperlakukan sama dengan malam kelahiran Nabi. Di masjid-masjid lampu-lampu yang dibungkus ornamen-ornamen kaligrafis yang indah dinyalakan, malam menjadi terang benderang. Anak-anak yang lahir malam itu seakan-akan memperoleh berkah. Mereka diberi nama Mi’raj al Din, Mi’raj Muhammad dan lain-lain.

Di Kashmir, India, Isra’-Mi’raj disambut dengan nyanyian rakyat (folklor) yang berisi ucapan selamat datang dan penghormatan kepada Nabi yang selalu dirindui:

Para Malaikat menyambutmu:
“Selamat Datang”
Para penghuni sorga juga
menyambutmu;
“Selamat Datang, seratus kali
selamat Datang!”

Sementara itu para penghuni bumi menyambutnya dengan menyelenggarakan perayaan meriah. Sebagaimana Maulid, dalam memperingati Isra’-Mi’raj mereka juga menghadirkan ulama dan penceramah untuk berbicara dan menjelaskan tentang peristiwa Isra’-Mi’raj berikut kejadian-kejadian yang menyertainya. Para penyair dan para sufi juga menyambut sang pujaan dengan menggubah puisi-puisi indah. Salah seorang mistikus dan sufi besar dari Persia: Farid al-Din Attar, melantunkan gubahan puisi yang memesona sekaligus menggetarkan hati:

Pada malam hari datanglah Jibril
Dan dengan suka cita ia berseru:
“Bangunlah, Duhai pemimpin dunia!
Tinggalkan tempat gelap ini
dan pergilah kini
Ke Kerajaan Abadi Tuhan
Langkahkanlah kakimu menuju
‘di mana tiada tempat’
Dan ketuklah pintu tempat suci itu
Dunia bersuka cita karena engkau

Dalam tradisi masyarakat muslim Indonesia, Isra’-Mi’raj disambut dengan suka-cita, seperti hari-hari besar Islam yang lain, meski tak sekolosal semeriah peringatan Maulid. Setiap tanggal 27 Rajab kaum muslim, terutama kalangan Nahdlatul Ulama, membaca Barzanji, dan nyanyian-nyanyian sanjungan kepada Nabi yang Agung ini, di samping acara-acara yang lain. Peristiwa ini juga telah diperingati di masjid-masjid dan pondok-pondok pesantren dan di kantor-kantor bahkan di istana negara, saban tahun.

Di pihak lain ada sebagian kaum muslimin, para pengikut Salafi dan Wahabi, menganggap Peringatan Isra’-Mi’raj, sebagaimana juga dalam kasus Peringatan Maulid Nabi, sebagai perbuatan “Bid’ah”, kesesatan atau penyimpangan dalam agama, dan pelakunya masuk neraka. Ini karena menurut mereka tata cara atau praktik tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Maka di Saudi Arabia, negara yang menganut paham keagamaan ala Wahabi ini, tak mungkin ada keramaian spiritual merayakan Peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Banyak komentar orang mengenai sikap atau pandangan Salafi-Wahabi ini: “Itu adalah pandangan keagamaan yang sangat dangkal, kering, dan pikiran yang tidak pernah tersentuh oleh pendekatan keagamaan yang cerdas. Ini adalah cara pandang tekstual, rigid, beku, kasar, tak tersentuh pengetahuan dan keindahan sastra. Bukan hanya kedangkalan pikiran, pandangan itu malahan menciptakan kemunduran peradaban berpuluh abad.

Tak setiap hal yang tidak ada pada masa nabi, berarti harus tak boleh ada pada masa yang lain. Tak terhitung jumlahnya peristiwa dalam kehidupan manusia pasca Nabi yang tak ada contoh tekstualitasnya dari Nabi. Apa yang kita hadapi dan jalani hari ini dan seterusnya tak ada pada masa Nabi. Adalah tak mungkin jika Nabi harus mengatakan segala hal tentang kehidupan manusia pada segala zaman dan di segala tempat.

Mengingat dan mencintai Tuhan, mencintai dan mengikuti jejak langkah Nabi adalah yang esensial dalam agama. Cara, jalan, bentuk, bungkus dan mekanisme mencintai adalah kreasi yang profan, terserah kita mau membuat atau menciltakannya, seperti apa, dengan model bagaimana, dan seterusnya.