PEMBATASAN SOSIAL SETENGAH HATI - FAKKIR

PEMBATASAN SOSIAL SETENGAH HATI

Oleh: Solikhin
Mahasiswa semester 1 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin
Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.Email: iingsolikhin76@gmail.com HP.082119604901

Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam rangka pencegahan penyebaran virus corona, penerapannya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020. Dalam peraturan tersebut bahwa penerapan PSBB harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Menteri Kesehatan.
Dalam pelaksanaanya masih ditemukan ketidaksiapan masyarakat dan juga pemerintah baik pusat maupun daerah, untuk melaksanakan pemberlakuan pembatasan sosial ini dengan sungguh-sungguh. Hal ini berdampak pada hasil dari penanganan penyebaran Covid-19 yang tidak maksimal. Oleh karena itu masih ditemukannya beberapa kasus terdampak virus corona dibeberapa daerah yang sudah melaksanan pemberlakuan PSBB. Tentu hal ini tidak baik bagi kita semua karena akan semakin sulit dalam penerapan PSBB berikutnya. Ekonomi masyarakat semakin susah dan semakin sulit bagi pemerintah membangun perekonomian yang sudah semakin terpuruk karena dampak dari penyebaran virus corona ini.
Salah satu bentuk ketidaksiapan dari masyarakat adalah kurangnya kesadaran dari masyarakat untuk mematuhi peraturan 3M (mencuci tangan dengan sabun dan dengan air yang mengalir, menjaga jarak dan memakai masker) yang sekarang telah dikbangkan dengan 5 M. Masih ditemukannnya kerumunan orang diberbagai tempat seperti pasar, tempat hiburan , dan tempat – tempat yang mengundang banyak orang untuk datang dan berkerumun, dan juga masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi peraturan protokol kesehatan yaitu 3M dan 5M. Kurangnya kesadaran dan kesiapan dari masyarakat ini yang menjadi salah satu faktor ketidakberhasilan pelaksanaan PSBB.
Selain itu pemerintah beserta jajaranya dalam pelaksanaan PSBB inipun masih dirasa kurang tegas dan terkesan pilih-pilih untuk menegakan disiplin protokol kesehatan di semua tempat. Kalaupun ada penegasan untuk penerapan protokol kesehatan, sifatnya hanya anjuran dan peringatan saja. Sehingga masih banyak kita jumpai diberbagai tempat , masyarakat mudah berkumpul dan tidak mengindahkan protokol kesehatan. Banyak orang dengan mudahnya hilir mudik dari satu tempat ketempat lainnya untuk bepergian dan jalan-jalan berwisata. Modatransportasi umum antar kota dan antar provinsi masih banyak yang beroperasi di daerah yang sedang melaksanakan penerapan PSBB. Kalaupun pemerintah memberikan syarat kepada mereka yang bepergian keluar kota harus melakukan Rapid tes, Rapid Antigen atau Tes Swab, maka ini membuktikan kalau pemerintah masih setengah hati dalam pelaksanaan PSBB.
Jika pemerintah benar-benar dan sungguh-sungguh untuk menerapkan PSBB, maka seharusnya tidak ada lagi kegiatan atau aktifitas di luar rumah dengan beramai- ramai dan bepergian keluar kota atau jalan-jalan ketempat wisata dan tempat – tempat orang mudah berkumpul. Rapid tes, Rapid Antigen, dan Tes Swab sebagai syarat untuk bisa orang keluar masuk dari satu daerah ke daerah lain ini harus ditiadakan. semua harus berada di daerah masing-masing menurut wilayah yang di berlakukan PSBB. Orang dari daerah luar yang tidak melaksanakan PSBB pun dilarang memasuki daerah yang sedang melaksanakan PSBB. Tapi dalam kenyataan masih ditemukan banyaknya kerumunan dan hilir mudiknya orang dari satu daerah ke daerah lainnya hanya menggunakan surat Rapid tes, Rapid Antigen, dan Tes Swab.
Kalau semua bentuk tes kesehatan berupa Rapid tes, Rapid Antigen dan tes Swab bisa mengetahui akan keadaan seseorang apakah terpapar virus covid-19 atau tidak, maka bagaimana dengan penyebaran melalui menempelnya virus pada anggota tubuh manusia yang tidak terdeteksi.
Kalau begini keadannya maka penerapan pelaksanaan PSBB jadi sia-sia dan membuang banyak biaya, energi dan hasil yang kurang maksimal. Lalu sampai kapan kita bisa bebas dari terdampak Virus Corona.