Pesantren dan Santri (2) - FAKKIR

Pesantren dan Santri (2)

FAKKIR.XYZ | BUYA HUSEIN MUHAMMAD – Pernyataan Cliffort Geertz tersebut menginformasikan kepada kita bahwa lembaga ini telah lahir pada masa yang sangat dini dari perkembangan agama Islam sendiri. Dengan kata lain, Pesantren merupakan lembaga pendidikan awal di negeri ini, sebelum ada lembaga-lembaga pendidikan modern sebagaimana dikenal sekarang ini. Pada sisi yang lain kenyataan itu juga menunjukkan bahwa para ulama pendiri pesantren bisa menerima tradisi dan kultur masyarakat setempat yang sudah ada sebelumnya, meskipun dari kultur Jawa atau lainnya dan beragama Hindu. Penggunaan istilah pesantren yang diadopsi dari agama lain tersebut tidak menjadi persoalan bagi mereka.

Di Pesantren, Kiyai dan para santri mengenakan kain sarung dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka tidak mengenakan pakaian Arab yang dikenal lidah indonesia sebagai “gamis” itu dan bukan pula celana panjang, ala orang-orang di Barat, atau dulu populer disebut pantalon. Sarung dalam bahasa Arab disebut “izar”. Sarung sebenarnya telah lebih dahulu menjadi tradisi pakaian masyarakat di berbagai tempat di dunia. Penggunaan sarung telah meluas, tak hanya di Semenanjung Arab, khususnya Yaman, namun juga mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika. Sarung juga dipakai oleh dalam sejumlah suku yang ada di masyarakat. Ia bukan menjadi identitas pakaian agama tertentu. Konon, Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat (India).

Di Indonesia, terutama di pesantren-pesantren tradisional, berabad lamanya, sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi. Para Kiyai Pesantren dan para santri dari dulu sampai sekarang selalu mengenakan sarung untuk shalat, mengaji, menghadiri acara-acara keagamaan dan dalam kehidupan di rumahnya sehari-hari. Memakai sarung ketika shalat dipandang lebih sopan dan terhormat daripada celana panjang.

Inilah prototipe kearifan yang ditunjukkan para wali dan ulama pesantren. Mereka mau menyerap tradisi apapun dan dari bangsa beragama apapun ke dalamnya tanpa harus kehilangan jati dirinya, atau tanpa harus mengikuti keyakinan agama atau ajaran-ajarannya yang dianggap bertentangan.

Dalam beberapa tahun belakangan ada kecenderungan baru di mana ada sebagian warga negara mengenakan busana ala tradisi Arab, seperti jubah atau tob.

Bersambung

20.10.2020
HM