Tersesat di ISIF - FAKKIR

Tersesat di ISIF

FAKKIR.XYZ | Neneng Alfiah

Hari itu hari pertamaku menginjakan kaki di ISIF (Institut Studi Islam Fahmina) Cirebon. Ibu Nyai Masriyah Amva selaku Pengasuh Pondok Pesantren Kebon Jambu, tempat aku nyantri saat itu, mengajakku membersamai beliau menghadiri sebuah acara di ISIF. _Saat itu aku baru lulus tingkat SMA atau ‘Aliyah_. Di sana, aku mengambil posisi duduk tepat di belakang bu nyai. Sejurus kemudian ada seorang lelaki yang kuterka merupakan salah satu mahasiswa ISIF.

“Mau kuliah di ISIF?” tanya seorang lelaki berkaos hitam lengan pendek dipadukan celana jeans biru dongker yang panjang, menyambutku seraya membuka obrolan.

Seketika aku bergumam dalam hati, Apaan.. Yang bener ini kampus? Masa iya? Tapi di gerbang emang aku lihat ada spanduk nama kampus ISIF serta pengumuman pembukaan pendaftaran untuk mahasiswa/i baru. Tapi… Belum selesai aku berceloteh dalam kecamuk pikiran yang penuh pertanyaan dan rasa penasaran, cepat-cepat aku berupaya menjawab pertanyaan lelaki itu agar tidak lama menunggu jawabanku, “Oh… Enggak-enggak, Mas. Aku cuma diminta nemenin Ibu Nyai aja di sini” jawabku singkat dengan simpul senyum dibibir seadanya.

Mataku kini tertuju pada sebuah pohon besar di halaman kampus ISIF. Ya, pohon asem. Terong, kangkung, kerupuk, teh botol, pisang, dan beberapa buah serta sayuran lainnya terlihat menggantung dengan beberapa utas tali rapia yang mengikatnya pada ranting-ranting pohon tersebut. Seketika aku terkekeh, ini acara apa? Lagian tidak terlihat panggung, hanya ada beberapa sound system ala kadarnya serta sebuah stand mik dengan beralaskan terpal saja. Semua tamu undangan duduk tanpa kursi alias lesehan. Kulihat hanya ada beberapa gelintir orang saja dan ternyata keperluan Ibu Nyai saat itu untuk bertemu dengan Buya Husein, pendiri Yayasan Fahmina. Bu nyai pun termasuk yang mempunyai hubungan erat dengan fahmina.

Sedang aku yang masih terperangkap dalam pertanyaan besar sembari lamat-lamat memperhatikan satu per satu yang ada di sekitar ISIF, ini kampus kok banyak orang-orang gundul berbaris memanjang dan berseragam biru laut? Layaknya anak SMK atau STM. Kalo iya kelas-kelas ini tempat anak-anak STM itu, terus kampus ISIF yang mana? Di mana? Ah, sudahlah. Tidak terlalu penting untuk kupikirkan.

Selang beberapa bulan kemudian, aku benar-benar terjebak masuk menjadi mahasiswi ISIF. Atas saran ibu nyai. Kedua orang tuaku pun manut saja. Akhirnya aku mengikuti proses pendaftaran serta seleksi masuk ISIF dengan segala aturan yang ada.

Malam itu malam inagurasi, malam keakraban acara OSPEK mahasiswa baru. Semua peserta OSPEK wajib perform apa saja ke depan panggung _hanya lesehan beralaskan terpal dengan berpusat di pohon asem_. Aku masih ingat betul saat menampilkan baca puisi di hadapan kakak tingkat semester dan beberapa dosen ISIF. Semilir angin malam itu tidak terlalu dingin, namun mampu membuat geletar di bibir. Ya, aku demam panggung. Ndregdeg.  Ah, tapi aku tidak peduli. Nyaliku mulai menyala bak nyala api unggun yang kian meninggi. Saat itu aku ditemani duet baca puisi oleh salah satu kakak tingkat semester dan untungnya aku mampu melewati proses demi proses acara OSPEK di ISIF dengan baik. Aku dinobatkan sebagai salah satu peserta OSPEK terbaik saat itu. Alhamdulillah. Hehe..

Saat aku telah resmi menjadi mahasiswi ISIF, semua pertanyaan-pertanyaan lalu yang sempat mengendap di pikiran, sudah bukan untuk dijadikan bahan pertanyaan. Aku merasa have fun. ISIF sangat berbeda dengan kampus lain, antara mahasiswa dan dosennya bisa sedekat dan seakrab itu. Proses belajar jadi menyenangkan tanpa tekanan. Kuliah bisa di kantin kampus, depan perpustakaan, gazebo samping sawah atau kebun. Di mana saja proses belajar di kampus ISIF menjadi sangat menyenangkan karena begitu fleksibel.

ISIF selain memajukan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal, transformasi sosial, kebangsaan, pluralisme, toleransi antarumat beragama, juga sangat mengedepankan gender dengan segala peran maupun status sosial perempuan. Kebetulan saat itu rektorku pun seorang perempuan, Nyai Afwah Mumtazah. Terbukti, bahwa perempuan berhak memiliki peran publik, berhak memiliki kiprah bukan hanya di wilayah domestik.

Soal keberkahan. Aku percaya adanya berkah guru, berkah kiai atau nyai dan berkah yang didapat dari segala aspek kehidupan. Salah satunya ISIF. Dari ISIF aku banyak mendapatkan berjuta pengalaman. Mungkin bisa dikatakan aku termasuk mahasiswi yang tidak lulus tepat empat tahun masa kuliah untuk meraih gelar S1. Namun, saat masih berstatus mahasiswi ISIF, aku bisa melanglang buana jauh ke mana saja. Diantaranya, ikut organisasi IPPNU, aktif di PELITA (Pemuda Lintas Iman) yang di mana aku banyak diperkenalkan dengan teman-teman berbeda agama atau keyakinan, aktif di SETAMAN (Sekolah Cinta Perdamaian) program Fahmina yang di mana aku bisa belajar menjadi fasilitator berbagi sedikit pengalaman pada teman-teman lintas wilayah di gereja, tempat ibadah muslim dan lain-lain. Kemudian terpilih menjadi delegasi utusan ISIF mengikuti Short Course di STT (Sekolah Tinggi Teologi) Jakarta, sekolah kristen, untuk study banding perihal teologi agama-agama. Di sisi lain, saya juga sempat nyambi ngajar di salah satu PAUD di Kota Cirebon. Aktif juga bersama teman-teman komunitas sastra, aktif perform puisi, ikut lomba-lomba baca puisi, aktif bersama teman-teman komunitas musik etnik bambu karinding.

Berkah luar biasa lainnya yang kudapat dari nyantri di ISIF dan nyantri di Pesantren Kebon Jambu adalah dapat kesempatan diperkenalkan oleh almarhumah Ken Zuraida, istri almarhum WS. Rendra (penyair terkemuka sejak tahun 1950-an yang mendapat julukan “Si Burung Merak”). Aku diberikan ilmu teater, dilatih teater dan disutradarai oleh alm. Ibu Ken _yang baru beberapa minggu ke belakang menghembuskan nafas terakhirnya sebab sakit_, untuk monolog pada pementasan Kalung Permata Barzanji yang ditampilkan di beberapa tempat, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Pusat Seni dan Budaya Tegal, dan lain-lain. Sampai pada akhirnya aku seret paksa diriku untuk kembali fokus mengerjakan tugas akhir skripsiku yang sempat tertunda. Tentu atas dorongan, suport, bantuan dari rektor, dosen-dosen ISIF, teman-teman maupun Staf ISIF yang begitu sangat perhatian membimbing mahasiswanya supaya cepat wisuda. Alhamdulillah, skripsiku dinobatkan menjadi skripsi terbaik kedua setelah skripsi kakak tingkat semester ISIF. Oh iya aku lupa, di ISIF usia bukan jadi patokan. Mau usia berapa saja asal membawa niat teguh untuk belajar, tidak masalah jika ingin kuliah di sini. Waktu angkatan semester aku pun beraneka ragam usia, banyak yang sudah berkeluarga bahkan berkepala tiga.

Di sini, aku tidak menggaris bawahi pada soal capaian apa saja yang bisa kuraih “saat menjadi mahasiswi ISIF”. Aku hanya satu sebagian kecil mahasiswa dari banyak mahasiswa lainnya yang sekarang capaian atau raihan prestasinya sungguh sangat luar biasa. Gimana enggak? Wong dosen-dosennya semua orang hebat. Tentu sangat bangga bisa dibimbing oleh mereka. Saat ini, alumni ISIF sudah ada yang menjadi kiai/ustad/nyai dengan memiliki beberapa santri, pengusaha besar, penulis buku hebat, PNS, bekerja di  KOMPAS, konsultan agama, pengacara hukum, aktif di media literasi, jurnalis, pelukis kaca, pemain wayang, penulis naskah kuno, penari dan pemusik tradisional yang andal, pemuka agama, pendakwah, guru hebat, dan masih banyak lagi capaian alumni-alumin ISIF lainnya yang bisa dijadikan teladan bagi mahasiswa/i baru saat ini. Bagiku, selain ridho orang tua, ngalap berkah dan do’a guru itu sangat penting. Seperti diriku, yang telah tersesat di ISIF dengan berjuta manfaat dan keberkahan yang tak terhingga. Kuucapkan banyak terima kasih kepada guru-guruku, dosen-dosenku semua di ISIF dan selamat datang kepada adik-adik tercinta, mahasiswa/i ISIF yang baru. Selamat menyelam di kedalaman ISIF. Berlayarlah menuju lubuk ISIF dan palung terdalam di sana dengan segala cinta, suka cita. Selamat menuntut ilmu di ISIF. Semoga berkah dan manfaat. Aamiin…